Strategi Pemerintah Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Diposting pada

Strategi Pemerintah Indonesia Menghadapi Revolusi Indutri 4.0

Pada zaman dahulu kala untuk memperoleh barang yang dikehendaki, manusia menggunakan istilah barter. Barter adalah kegiatan saling menukar barang yang memiliki nilai sama. Seiring berjalannya waktu, penggunaan metode barter dalam meraih suatu hal yang diinginkan terkesan merepotkan. Kemudian diciptakan uang sebagai alat tukar barang yang masing-masing memiliki nilai berbeda.

Penggunaan uang sebagai alat tukar dirasa cukup praktis hingga bertahan sampai sekarang. Namun masalah baru muncul, yaitu semakin banyak manusia maka kebutuhan barang akan naik. Naiknya kebutuhan barang akhirnya dapat diatasi dengan cara membangun beberapa tempat produksi. Tempat produksi karena membutuhkan skala yang besar akhirnya berubah menjadi industri, awalnya industri hanya bersifat rumahan dengan kapasitas yang kecil.

Dengan naiknya kebutuhan manusia akan barang konsumtif, lahirlah revolusi industri pertama. Revolusi industri 1.0 menghadirkan pemakaian alat produksi missal yang dapat membuat barang dalam jumlah banyak. Semakin berjalannya waktu, pemakaian alat produksi missal membutuhkan peningkatan performa. Akhirnya ditemukanlah mesin uap sebagai ciri khas dari revolusi industri 2.0.

Seiring waktu berjalan, mesin uap dianggap metode kuno yang memakan banyak biaya produksi jika ditinjau dari segi penggunaan bahan bakar. Untuk mengatasi fenomena tersebut maka terbitlah revolusi industri 3.0 yang mana menggalakkan pemakaian komputer dan alat produksi berbasis listrik. Zaman semakin maju, sumberdaya manusia telah meningkat sehingga persaingan dunia kerja menjadi ketat.

Guna mengurangi pemakaian tenaga manusia, akhirnya digunakan robot dan mesin-mesin pintar berbasis smart-machine untuk mengatasi hal tersebut. Fenomena ini disebut sebagai revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Indonesia sebagai negara berkembang harus menyiapkan strategi untuk menghadapi kemajuan zaman terkait revolusi industri 4.0. Apa sajakah upaya yang dilakukan pemerintah? Simaklah ulasan materi sebagai berikut.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri adalah gambaran berupa kegiatan produksi yang menggunakan teknologi canggih sebagai mesin utama. Sehingga tenaga manusia minim digunakan dalam kegiatan produksi. Teknologi canggih yang disebutkan diatas adalah penggunaan sistem robot. Supaya industri di Indonesia tidak dikalahkan oleh luar negeri, pemerintah harus menggalakkan upaya menggunakan teknologi robot dalam setiap perindustrian.

Orang awam mayoritas tidak memahami bagaimana sistem yang diterapkan dalam sebuah robot untuk menjalankan tugasnya memproduksi barang. Secara sederhana, mesin yang dikendalikan oleh robot telah dimasukan dasar algoritma sehingga dalam melaksanakan “pekerjaan” tentunya robot melakukan tugas yang maksimal, bahkan melebihi manusia dalam melakukan keahlian dalam satu bidang.

Fenomena ini tentunya menghawatirkan para tenaga kerja yang ada di Indonesia. Ketatnya persaingan kerja antar manusia telah dirasakan masyarakat selama ini. Ditambah lagi harus bersaing dengan teknologi mesin sempurna semacam robot. Maka tidak heran banyak perindustrian maju yang harus memberhentikan pekerja karena tugasnya digantikan oleh robot. Pekerja yang diberhentikan karena pergantian teknologi dinamakan dengan bentuk pengangguran teknologi.

Revolusi industri 4.0 pertama kali dirilis pada tahun 2013, tepatnya di Jerman. Kala itu, tepatnya di Hamburg sedang dilaksanakan tes kualifikasi kompeten pada robot yang telah dipersiapkan untuk menggantikan manusia dalam proses industri. Percobaan tersebut 100% mengalami keberhasilan karena sebuah robot telah dirancang menguasai 1 keahlian sehingga sangat minim robot melakukan kesalahan jika tidak terjadi kerusakan atau masalah teknis.

World Economic Forum Davos pada tahun 2015 membuka sesi seminar yang menerangkan tentang upaya menghadapi revolusi industri 4.0. Dalam seminar tersebut, salah satu pembicara yang merupakan ahli industri dari Jerman bernama Angela Merkel mengemukakan bahwa “manusia dipersiapkan menjadi seorang professional, sejatinya pekerjaan manusia mengoptimalkan fungsi otak, sehingga tidak memerlukan pekerjaan yang mebutuhkan tenaga”.

Pernyataan Angela Merkel tersebut menyimpulkan bahwa tidak masalah manusia telah digantikan teknologi canggih robot dalam proses industri. Tinggal manusia sendiri memanfaatkan SDM yang dimiliki dengan menguasai satu keahlian khusus agar dapat bersaing di dunia professional. Untuk memasuki era revolusi industri 4.0 tidak mudah, perlu berbagai kualifikasi agar pabrik dapat masuk dalam kategori tersebut.

Agar sebuah pabrik dapat tergolong dalam kategori revolusi industri 4.0 harus memiliki 4 syarat yaitu, antara lain adalah sebagai berikut;

Interoperability

Definisi interoperability adalah suatu kemampuan sistem komputer baik hardware ataupun software untuk memaksimalkan informasi yang masuk sehingga dapat dimanfaatkan serta diubah oleh sistem dengan sendirinya. Mesin, perangkat, sensor, sumberdaya listrik, storage, dan lain-lain harus saling terhubung.

Transparansi Informasi

Transparasi informasi yaitu sistem yang menghadirkan copyan virtual antara fisik dan softfile. Tujuan transparansi informasi adalah untuk mengoneksikan antara hitungan algoritma informasi supaya dapat dimaksimalkan dengan baik.

Bantuan Teknis

Kecanggihan robot tetap memerlukan bantuan teknis berupa tenaga manusia sebagai operator. 1 manusia dapat menjadi operator (bantuan teknis) sebanyak ±20 mesin robot.

Penggunaan Mesin

Syarat yang terakhir supaya pabrik dapat dikategorikan dalam revolusi industri 4.0 adalah penggunaan mesin yang desentralisasi. Artinya, robot-robot tersebut harus bisa dirancang untuk membuat keputusan sendiri dalam menghadapi segala resiko.

Hal ini bertujuan agar jika terjadi beragam contoh permasalahan ketenagakerjaan, terutama terkait robot telah dapat mengantisipasi tanpa bantuan operator.

Startegi Pemerintah Indonesia

Pembahasan diatas telah disebutkan bahwa untuk memasuki era revolusi industri 4.0, suatu negara harus mempersiapkan segala syarat yang telah ditetapkan. Jika perindustrian di Indonesia telah menyiapkan syarat tersebut maka selebihnya merupakan tugas pemerintah dalam strategi menghadapi revolusi industri 4.0.

Upaya pemerintah Indonesia dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dapat disimak dalam uraian materi sebagai berikut;

Meningkatkan Keterampilan

Meningkatkan keterampilan yang dimaksud adalah menyiapkan sumberdaya manusia (dalam hal ini masyarakat Indonesia) supaya tidak bergantung pada lapangan kerja yang bergerak di bidang industri. Faktanya, bekerja menjadi seorang professional yang menekuni bidang tertentu dipercaya akan mendapatkan penghasilan yang melebihi buruh pabrik dengan standar Upah Minimum Kerja (UMK).

Meningkatkan Penggunaan Teknologi Canggih pada IKM

IKM merupakan industri kecil menengah yang terdapat di permukiman masyarakat. Penggunaan teknologi canggih dapat dimulai dari IKM agar masyarakat terbiasa dengan hadirnya robot dalam proses industri. Usaha ini telah dikenal sejak tahun 2016 dengan istilah e-smart IKM. Karena dalam menghadapi revolusi industri 4.0 perlu peran dari segala lapisan masyarakat Indonesia.

Penggunaan Teknologi Digital

Selain penggunaan teknologi canggih seperti robot pada suatu proses produksi, dalam menghadapi revolusi industri 4.0 pemerintah diharapkan memberikan sosialisasi pada setiap pengelola pabrik supaya menyediakan teknologi digital seperti Big Data, Badan Pusat Statistik, Cyber Security, Cloud, dan lain-lain. Penggunaan teknologi digital berfungsi sebagai penyedia data penting jika dibutuhkan suatu saat.

Penggunaan Inovasi Teknologi

Teknologi robot dan digital telah dihimbaukan pada setiap pabrik industri dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Selebihnya, untuk menghadapi persaingan global, perlu menyediakan inovasi teknologi di dalamnya.

Inovasi teknologi dapat dicontohkan sebagai penggabungan antara robot yang bertugas sebagai finishing merangkap tugas menjadi pengelola absen pekera. Walaupun kedengarannya mustahil, namun apa salahnya mencoba inovasi tersebut.

Membangun Pembangkit Listrik

Penggunaan teknologi robot tentunya membutuhkan energi listrik yang signifikan. Agar persediaan listrik di Indonesia tidak terkuras habis, dalam menghadapi revolusi industri 4.0 diharapkan pabrik menyediakan pembangkit listrik sendiri supaya tidak mengonsumsi listrik milik negara secara terus-menerus.

Nah, penjelasan tersebut merupakan ulasan materi yang membahas tentang pengertian revolusi industri 4.0 dan berabagai macam startegi pemerintah Indonesia dalam menghadapinya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Terima kasih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *