Dampak Pemanasan Global bagi Kehidupan

Diposting pada

Dampak Pemanasan Global bagi Kehidupan

Saat ini pemanasan global merupakan salah satu tantangan paling serius yang tengah dihadapi oleh penduduk dunia. Berbagai peristiwa yang menyimpang terhadap kerusakan lingkungan pun kerap terjadi seperti badai, angin ribut, hingga perubahan musim tanam. Para peneliti yang tergabung dalam Lembaga Survei Antartika (BIA) menyatakan bahwa kurang lebih 1 juta hektar gunung es di barat antartika atau yang dikenal dengan lingkar kutub selatan rawan pecah atau meleleh. Hal itu menunjukkan bahwa keadaan antartika telah berubah secara drastis karena dampak pemanasan global.

Pemanasan Global

Pengertian pemanasan global (global warming) pada umumnya merupakan fenomena meningkatnya suhu rata-rata daratan, laut, dan atmosfer bumi. Pemanasan global disebabkan efek rumah kaca yang dipicu oleh penigkatan emisi zat rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), Hiperfluorokarbon (HFCs), Perfluorokarbon (CFCs), sulfur heksaflorida (SF6), Nitrousoksida (N2O).

Zat-zat rumah kaca tersebut menyebabkan panas matahari terperangkap dalam atmosfer bumi dan tidak dapat menyebar sehingga meningkatkan suhu bumi.  Jika peningkatan suhu terjadi secara terus menerus, maka dapat dipastikan bahwa pada tahun 2040 kelak seluruh lapisan es di bagian kutub bumi akan habis dan menyebabkan meningkatnya tinggi air laut hingga menenggelamkan pulau-pulau.

Para ahli telah mengamati bahwa penyebab pemanasan global adalah berbagai kegiatan manusia yang mendorong terjadinya fenomena efek rumah kaca. Contoh aktivitas manusia yang mendukung timbulnya pemanasan global antara lain penebagan hutan yang terjadi secara terus menerus, kawasan industri yang meningkat, kendaraan bermotor yang semakin banyak, dan kegiatan rumah tangga serta peternakan.

Dampak Pemanasan Global

Pemanasan global telah menjadi perhatian berbagai pihak dunia sejak beberapa dekade lalu karena dampaknya yang sangat berbahaya dan keberadaannya yang mengancam masa depan bumi termasuk manusia dan makhluk hidup lainnya. Beberapa dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global antara lain sebagai berikut:

Perubahan Cuaca

Dampak yang sangat terlihat dari pemanasan global ialah perubahan cuaca dan perubahan iklim, contohnya, meski kini telah memasuki bulan yang seharusnya musim kemarau namun hujan masih saja sering terjadi. Berdasarkan estimasi, semenjak 30 tahun belakangan, pergantian musim hujan ke musim kemarau terus bergeser.

Tatanan hujan pun akan berubah, sebagian wilayah curah hujannya akan bertambah, sedangkan sebagian wilayah lain curah hujannya akan berkurang. Saat musim dingin, suhu akan meningkat pada malam hari. Musim tanam pada beberapa area pun akan lebih panjang. Pola cuaca menjadi tiak terprediksi dan lebih ekstrim.

Naiknya Tinggi Permukaan Laut

Saat terjadi pemanasan global belahan bumi bagian utara akan menjadi lebih panas apabila dibandingkan dengan bagian bumi yang lain, akibatnya gunung-gunung es di kutub akan mencair sehingga menimbulkan naiknya tinggi permukaan laut.

Menurut laporan penelitian IPCC dapat diperkirakan  bahwa apabila peningkatan temperatur terus berlanjut, maka pada tahun 2040 lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh, dan pada tahun 2050 kekurangan air tawar pun akan terjadi.

Pertanian

Pemanasan global juga berdampak pada sektor pertanian, contohnya di Afrika yang memiliki lahan pertanian yang tropis semi kering maka akan susah mendapatkan hasil panen yang baik karena penigkatan suhu. Tak hanya itu petani juga dirugikan dengan pemanasan global karena susahnya memprediksi masa tanam dan masa panen.

Oleh karena itulah sampai saat ini mereka selama ini menggunakan cuaca sebagai patokan penanaman, jika terjadi salah prediksi, maka hasil panennya akan menjadi kurang bagus sehingga dapat mengalami kerugian bahkan gagal panen dan menyebabkan para petani kehilangan mata pencahariannya.

Hewan

Karena temperatur bumi yang meningkat, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan, namun hal ini terhalang oleh pembangunan yang makin gencar dan lahan-lahan pertanian yang mengubah bentuk habitat asal mereka. Peristiwa menghangatnya bumi menyebabkan spesies-spesies hewan yang tidak mampu berpindah secara cepat maupun yang terhalang tidak mampu bertahan hidup bahkan musnah.

Tumbuhan

Naiknya temperatur bumi yang dipicu meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca juga akan berpengaruh pada kehidupan tumbuhan.  tumbuhan akan cenderung mencari daerah baru untuk tumbuh dengan mengubah arah pertumbuhannya karena habitat lamanya telah berubah temperatur menjadi lebih hangat. Apabila tumbuhan gagal beradaptasi terhadap lingkungannya, maka dapat diperkirakan tidak akan mampu bertahan hidup dan punah. Selengkapnya, baca; Permasalahan Lingkungan Hidup [Penyebab & Solusinya] di Indonesia

Kesehatan Manusia

Pemanasan global juga menyebabkan berbagai penyakit yang biasanya mewabah di daerah tropis menjadi menyebar lebih luas karena pembawa penyakit dapat berpindah ke tempat yang sebelumnya dirasa terlalu dingin dan sekarang telah menghangat karena kenaikan temperatur bumi, contohnya nyamuk anopheles penyebab malaria yang kini juga dapat ditemui di daerah subtropis yang bukan habitat asal mereka seperti di afrika tengah dan ethiopia.

Gangguan Kehidupan Laut

Karena temperatur bumi yang meningkat, maka tekanan bagi ekosistem laut juga akan meningkat seperti batu karang yang akan berubah putih dan mati. Peningkatan suhu perairan juga mempermudah penyebaran penyakit dan mengganggu kehidupan makhluk laut.

Hasil Tangkapan Nelayan

Berubahnya suhu, tekanan udara, kecepatan dan arah angin menyebabkan perubahan arus yang ada di laut. Jika hal ini terjadi, maka akan berdampak pada proses migrasi ikan, sehingga hasil perikanan yang tertangkap juga akan berkurang.

Kebakaran Hutan

Karena cuaca yang tak menentu serta kenaikan temperatur bumi yang terjadi secara terus menerus sehingga area hutan lebih kering dari biasanya dan mudah terbakar. Belakangan ini telah sering terjadi fenomena kebakaran hutan secara besar-besaran. Peristiwa ini telah banyak terjadi di Amerika Serikat, Rusia, Australia, dan Indonesia.\

Cepat Rusaknya Situs Purbakala

Suhu ekstrim, pasang laut, dan banjir yang disebabkan pemanasan global dapat menyebabkan rusaknya situs purbakala. Alam yang kini mulai tak bersahabat menyebabkan lebih cepat rusaknya sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain dibandingkan dengan beberapa waktu sebelumnya.

Satelit Akan Bergerak Lebih Cepat

Emisi gas rumah kaca seperti Karbondioksida (CO2) menyebabkan temperatus bumi menjadi meningkat bahkan berimbas sampai ke ruang angkasa. Dengan bertambahnya akumulasi Karbondioksida (CO2) dan tipisnya udara terluar atmosfer.

Akibatnya, molekul-molekul teratas atmosfer akan lebih lambat menyatu dan memancarkan energi serta mendinginkan udara di sekitarnya. Semakin banyak Karbondioksida maka semakin banyak dorongan dari atmosfer, sehingga satelit akan bergerak lebih cepat.

Keruntuhan Batuan

Karena naiknya temperatur global, maka akan memicu melelehnya gunung es, dan seluruh lapisan tanah yang selama ini beku. Hal ini berakibat ketidakstabilan dataran tinggi seperti pegunungan dan dapat menyebabkan keruntuhan batuan.

Intensitas Banjir yang Meningkat

Karena pola hujan yang acak serta musim hujan yang pendek dengan curah sangat tinggi (cuaca ekstrem), maka banjir akan sering terjadi dengan jumlah yang lebih tinggi dari biasanya. Banjir yang terjadi dapat menyebabkan berbagai macam kerugian, diantaranya adalah kerugian materiil karena rusaknya berbagai bangunan serta infrastruktur, tak hanya itu banjir juga dapat merenggut banyak korban jiwa dan menyebabkan berbagai macam penyakit.

Berkurangnya Luas Kawasan Pesisir

Pemanasan global juga menyebabkan luasan kawasan pesisir akan berkurang dan tenggelamnya berbagai pulau kecil. Hal ini didukung dengan naiknya permukaan air laut yang dipicu melelehnya bongkahan-bongkahan es di kutub.

Pada akhir abad ke 2100 diperkirakan akan terjadi kemunduran mundurnya garis pantai sepanjang 25 meter dan menghilangkan 202.500 hektar lahan pesisir. Kondisi tersebut akan mempersempit luas wilayah. Apabila pulau-pulau kecil tenggelam dan wilayah pesisir musnah, maka para penduduknya dituntut untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi.

Rusaknya Ekosistem Mangrove

Naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh melelehnya daerah kutub karena pemanasan global juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Hingga saat ini luas hutan mangrove di Indonesia telah mengalami penurunan sebanyak 50% apabila dibandingkan dengan luasnya pada tahun 1982 yang jumlahnya mencapai 5.209.543 hektar.

Apabila hal ini terus berlanjut dan tidak dicegah melalui proses pelestarian lingkungan, maka abrasi pantai akan lebih sering terjadi. Tidak adanya mangrove sebagai filter polutan juga menyebabkan pencemaran dari sungai ke laut semakin meningkat. Baca jugaCara Mengatasi Global Warming dan Contoh Tindakannya

Demikianlah serangkaian tulisan tentang penjabaran mengenai dampak pemanasan global bagi kehidupan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan menyuguhkan informasi baru yang memperkaya pengetahuan. Terimakasih.

5 (100%) 1 vote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *