Pengertian Natalitas dan Faktor-Faktornya

Diposting pada

Pengertian Natalitas

Demografi adalah ilmu yang mempelajari segala seluk-beluk tentang kependudukan. Dapat dikatakan bahwa demorafi adalah cabang ilmu geografi yang berfokus pada antroposfer (pembelajaran kependudukan). Dalam suatu perhitungan penduduk yang dinilai antara lain kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), dan migrasi. Perhitungan tersebut umumnya dipakai saat dilaksanakannya sensus penduduk.

Mengapa kelahiran wajib dipakai dalam menghitung kependudukan di Indonesia? Karena kelahiran berperan penting dalam penambahan jumlah penduduk. Semua pasangan yang sudah sah secara agama dan hukum tentunya menginginkan lahirnya buah hati untuk mengisi kebahagiaan mereka. Itulah sebabnya kelahiran merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan suami istri.

Jumlah kelahiran harus selalu dipantau, sebab jika dibiarkan begitu saja yang ditakutkan adalah tingkat kepadatan akan menjadi tinggi di masa depan. Penekanan jumlah kelahiran bisa menggunakan program Keluarga Berencana. Untuk yang belum menikah, bisa diajari tentang pendidikan seks pra-nikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pada artikel kali ini kita akan terfokus pada pembahasan natalitas, langsung saja simak penjelasan berikut.

Natalitas

Natalitas adalah penambahan populasi dalam suatu lingkungan dengan bentuk kelahiran bayi. Perhitungan kepadatan penduduk dalam natalitas adalah kelahiran setiap 1.000 penduduk per satu tahun. Apa manfaat natalitas selain untuk mengetahui jumlah penambahan penduduk? Yaitu untuk mengetahui kesuburan pasangan dalam satu lingkup lingkungan. Terdapat standar skala yang menentukan kualitas dari natalitas.

Standarnya yaitu apabila dalam satu tahun, per 1.000 penduduk kelahirannya di bawah angka 20, artinya rendah. Jika kelahirannya di angka 20 sampai dengan 30 akan dimasukan dalam rentang sedang. Jika angka kelahirannya 30 ke atas barulah bisa dikatakan tinggi.

Di Indonesia, angka natalitas masih dalam kategori tinggi. Penyebabnya adalah masih banyaknya pasangan yang menikah di usia muda.

Faktor Pendorong Natalitas

Natalitas tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor yang mendorong terjadinya natalitas. Dalam suatu permukiman masyarakat, pernikahan sudah bisa menentukan pertumbuhan penduduk. Bahkan di perkotaan, masa pubertas seorang remaja perlu diwaspadai agar tidak terjadi natalitas yang tidak diharapkan. Apa sajakah faktor yang mendorong terjadinya natalitas? Simaklah penjelasan materi sebagai berikut.

Tingkat Pendidikan

Faktor pendorong terjadinya natalitas yang pertama adalah tingkat pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan memberikan pilihan menikah pada pemuda yang tinggi.

Bayangkan saja, pemuda yang sudah bekerja di usia 18 tahun dengan pemuda yang 18 tahun  memustuskan untuk kuliah, maka yang duluan menikah presentase terbesarnya terjadi pada pekerja. Perempuan memegang presentase tertinggi untuk pernikahan usia muda.

Hal ini dikarenakan, perempuan yang di usia 18 tahun tidak kuliah atau tidak bekerja, lebih baik dinikahkan agar tidak menjadi beban orang tua.

Begitulah pemikiran masyarakat pada umumnya baik di dalam pengertian perkotaan maupun dalam berbagai jenis pedesaan. Di pedesaan umumnya yang masih erat dengan sistem begituan. Penekanan natalitas bisa dilakukan dengan cara sekolah yang tinggi. Mahasiswa yang setelah lulus S1 lanjut ke S2 peluangnya untuk menikah minim.

Jika pemerintah menerapkan beasiswa S2 bagi mahasiswa yang berkeinginan melanjutkan pendidikan maka dirasa program ini mampu menekan angka natalitas meski tidak besar. Penekanan natalitas paling ampuh adalah memperhatikan pasangan-pasangan yang sudah menikah. Penerapan program Keluarga Berencana (KB) di setiap daerah perlu dilakukan guna menekan angka kelahiran dalam jumlah besar.

Kebijakan Pemerintah

Faktor pendorong terjadinya natalitas yang kedua adalah kebijakan pemerintah. Di Tiongkok, pemerintahnya mewajibkan setiap pasangan hanya boleh memiliki satu anak. Kebijakan ini diterapkan karena Tiongkok saat ini merupakan negara yang paling padat sedunia. Apabila melanggar, maka warga Tiongkok tersebut menyalahi aturan yang berlaku. Sehingga ancaman pidana dapat diberlakukan bagi yang memiliki anak lebih dari satu.

Kebijakan pemerintah Tiongkok tersebut dirasa kurang tepat jika dilaksanakan di Indonesia. Disini, sudah diterapkan program Keluarga Berencana (KB) namun banyak keluarga yang anaknya lebih dari dua. Menurut pendapat mayoritas warga Indonesia, pemakaian alat kontrasepsi mengurangi kenikmatan dalam berhubungan seks. Sehingga alat tersebut diabaikan saat melakukan hubungan suami istri.

Kepercayaan/Agama

Anak merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa dan harus dijaga dengan segenap jiwa dan raga. Dengan diberikannya kelahiran anak dari Tuhan kepada manusia sudah sepantasnya disyukuri. Semua agama/kepercayaan tidak ada aturan mengenai usia berapa atau jumlah anak yang dibatasi. Agama menganjurkan melakukan pernikahan jika saat itu telah tiba. Jadi bisa dikatakan kepercayaan/agama mendukung atau mendorong natalitas itu sendiri.

Kondisi Ekonomi

Kondisi perekonomian masyarakat mampu menyebabkan terjadinya pernikahan pada masyarakat. Sebagai contoh, keluarga Pak Zaini memiliki 4 orang anak. Pekerjaan Pak Zaini adalah buruh tani yang sawahnya milik orang lain. Istrinya tidak bekerja. Anak yang pertama laki-laki yang sudah berkeluarga. Usianya 24 tahun, dirinya sudah memiliki anak usia TK. Dirinya bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji UMK sementara istrinya tidak bekerja.

Anak kedua Pak Zaini berusia 18 tahun, baru lulus SMA. Sudah berusaha mendaftar beasiswa Perguruan Tinggi namun belum rezekinya. Dirinya tidak berkeinginan untuk bekerja sebagai buruh pabrik seperti teman-teman sebayanya di desa tersebut. Anak ketiga dan keempat Pak Zaini masih SMP. Otomatis Pak Zaini menyarankan anak keduanya untuk segera menikah agar tidak menjadi tanggungan bagi keluarga.

Struktur Penduduk

Struktur dalam definisi penduduk seperti apa yang menyebabkan terjadinya natalitas di masyarakat? Yaitu pada silsilah keluarga. Struktur tersebut banyak berlaku di pedesaan, di perkotaan sudah jarang terjadi. Maksudnya adalah seperti, jika suatu keluarga orang tuanya dulu menikah di usia 20 maka anaknya juga dituntut menikah di usia 20 pula. Jika menentang kehendak tersebut maka dianggap sebagai hal yang memalukan bagi keluarganya.

Adat Istiadat

Di Indonesia, khususnya daerah-daerah yang masih terpencil dan susah dijangkau, masih banyak adat yang mengharuskan pernikahan di usia muda. Pernikahan usia muda ini dianggap sebagai hal yang biasa saja bahkan sangat diharuskan.

Usia muda yang dimaksud bukan 16,17,18 tahun. Namun usia muda yang dimaksud adalah 11,12,13 tahun. Pada usia segitu selain berdampak pada psikologis yang menikah, resiko kegagalan dalam kelahiran juga bisa terjadi.

Kesehatan

Jika sudah menikah, dan mengalami kehamilan, proses yang ditunggu-tunggu adalah kelahiran. Saat pasca pernikahan, sepasang suami-istri mengharapkan suatu kehamilah di rahim sang istri. Faktor kesehatan bisa dikaitkan dengan tertundanya atau kesegeraan dalam kehamilan. Pas sudah hamil, kehamilan tersebut dijaga semaksimal mungkin sampai hari kelahiran tiba. Lagi-lagi faktor kesehatan berperan dalam hal ini.

Kehamilan sudah dijaga semaksimal mungkin sampai saat kelahiran tiba. Proses persalinan disarankan menggunakan bidan yang jam kerjanya tinggi. Atau paling tidak dilahirkan di rumah sakit yang peralatan medisnya lengkap. Karena sekali lagi, persalinan juga berdasar pada faktor kesehatan jika ingin pihak ibu maupun bayi dapat lahir dengan sehat dan selamat. Jaga makanan yang bergizi tinggi selama kehamilan.

Itu tadi adalah penjelasan yang menerangkan tentang natalitas dari segi pengertian dan faktor pendorongnya. Pahami setiap ilmu pelajaran agar menemukan manfaatnya suatu saat. Sekian artikel kali ini, semangat dan terimakasih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *