Fenomena Yang Menjadi Bukti Teori Apungan Benua

Diposting pada

Fenomena Bukti Teori Apungan Benua

Pada dasarnya pergeseran benua merupakan pergerakan horizontal yang terjadi dalam skala besar dari benua relatif satu sama lain dan ke cekungan samudra selama satu atau lebih episode waktu geologi. Konsep ini merupakan pendahulu penting bagi perkembangan teori lempeng tektonik, yang menggabungkannya dalam contoh fenomena alam sehingga menjadi bukti teori apungan benua.

Pasalnya, ide perpindahan benua dalam skala besar memiliki sejarah yang panjang. Memperhatikan kecocokan yang jelas dari tonjolan Amerika Selatan bagian timur dengan teluk Afrika, naturalis Jerman Alexander von Humboldt berteori sekitar tahun 1800 bahwa daratan yang berbatasan dengan Samudra Atlantik pernah digabungkan.

Teori Apungan Benua

Buku yang mencatat sejarah geografi menerangkan bahwa teori apungan benua pertamakali dikemukakan oleh Alfred Wegener pada tahun 1912. Akan tetapi 50 tahun kemudian, Antonio Snider Pellegrini, seorang ilmuwan Prancis, berpendapat bahwa keberadaan fosil tumbuhan yang identik di endapan batubara Amerika Utara dan Eropa dapat dijelaskan jika dalam menghubungkan kedua benua.

Prosesi ini bisa dikatakan sebagai suatu hubungan yang sulit dijelaskan. Bahkan pada tahun 1908 Frank B. Taylor dari Amerika Serikat menggunakan gagasan tabrakan benua untuk menjelaskan pembentukan beberapa pegunungan dunia.

Bukti Teori Apungan Benua

Yang pasti. terdapat beragam fenomena yang dapat dijadikan sebagai bukti bahwa benua-benua di dunia bergerak, tapi bukti fenomena yang paling berpengaruh diantaranya yaitu:

  1. Kedekatan yang tampak pada kenampakan fisik

Fenomena yang menunjukkan hal tersebut, diantaranya yaitu:

  1. Tonjolan Brasil (Amerika Selatan) tampaknya masuk ke Teluk Guinea (Afrika).
  2. Greenland tampaknya cocok dengan pulau Ellesmere dan Baffin di Kanada.
  3. Pantai barat India, Madagaskar, dan Afrika tampaknya pernah bergabung.
  4. Amerika Utara dan Selatan di satu sisi dan Afrika serta Eropa di sisi lain berada di sepanjang punggung tengah Atlantik.
  5. Pegunungan Caledonian dan Hercynian di Eropa dan Appalachian di Amerika Serikat tampaknya menjadi satu rangkaian yang berkelanjutan.

Kritik terhadap bukti ini, yaitu:

  1. Garis pantai adalah fitur sementara dan dapat berubah.
  2. Beberapa kombinasi lain dari pemasangan bentuk lahan yang tidak terkait dapat dicoba.
  3. Teori Arus Kontinental menggeser posisi India terlalu banyak ke selatan, merusak hubungannya dengan Laut Mediterania dan Pegunungan Alpen.
  4. Pegunungan tidak selalu menunjukkan kedekatan geologis.
  1. Pergeseran kutub

Posisi kutub yang terjadi secara terus-menerus bergeser biasanya akibat adanya akibat berbagai jenis lempeng tektonik. Akan tetapi kritik terhadap bukti ini yaitu kutub mungkin telah bergeser, belum tentu benua.

  1. Bukti botani

Keberadaan vegetasi glossopteris di batuan Karbon di India, Australia, Afrika Selatan, Kepulauan Falkland (Wilayah seberang Inggris), Antartika, dan lain-lain. (Semuanya terpisah dari daratan yang sama yang disebut Gondwana) dapat dijelaskan dari fakta bahwa bagian-bagian tersebut terhubung di masa lalu.

Kritik terhadap bukti ini yaitu vegetasi serupa ditemukan di bagian dunia yang tidak terhubung seperti Afghanistan, Iran dan Siberia.

  1. Distribusi Fosil

Fenomena yang menunjukkan hal tersebut, diantaranya yaitu:

  1. Pengamatan bahwa Lemur terjadi di India, Madagaskar dan Afrika membuat beberapa orang mempertimbangkan massa daratan yang berdekatan “Lemuria” yang menghubungkan ketiga daratan ini.
  2. Mesosaurus adalah reptil kecil yang beradaptasi dengan air payau yang dangkal. Kerangka ini hanya ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil. Kedua daerah tersebut saat ini terpisah sejauh 4.800 km dengan lautan di antaranya.
  1. Bebatuan dengan umur sama di seberang Lautan

Fenomena yang menunjukkan hal tersebut yaitu sabuk bebatuan kuno 2.000 juta tahun dari pantai Brasil cocok dengan yang dari Afrika barat. Kritik terhadap bukti ini yaitu batuan dengan usia yang sama dan karakteristik yang mirip juga ditemukan di belahan dunia lain.

  1. Endapan tillite

Fenomena yang menunjukkan hal tersebut, diantaranya yaitu:

  1. Endapan tillite adalah batuan sedimen yang terbentuk dari endapan gletser.
  2. Sistem sedimen Gondwana ditemukan di India, Afrika, Pulau Falkland, Madagaskar, Antartika dan Australia (semuanya sebelumnya bagian dari Gondwana).
  3. Kemiripan keseluruhan menunjukkan bahwa daratan ini memiliki sejarah yang sangat mirip.
  1. Endapan emas

Endapan emas yang kaya ditemukan di pantai Ghana (Afrika Barat) tetapi sumbernya ada di Brasil, dan jelas bahwa endapan emas Ghana berasal dari dataran tinggi Brasil ketika kedua benua itu berdampingan.

Dari penjelasan yang dikemukakan dapatlah dikatakan bahwa secara garis besar, keseluruhan fenomena yang menjadi bukti dari teori apungan benua yang juga dikenal dengan teori pergeseran benua bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Bukti Klimatik

Bukti klimatik terkuat yang menunjukkan terjadinya apungan benua yaitu keberadaan deposit batu bara di daerah kutub dan lintang tinggi. Padahal, proses terbentuknya batu bara membutuhkan hutan-hutan lebat, yang tidak mungkin tumbuh di daerah kutub dan lintang tinggi.

Oleh sebab itu, ada dugaan kuat bahwa daerah-daerah tersebut pernah berada di daerah tropis atau subtropis, sehingga dapat terbentuk batu bara di lokasi tersebut. Akan tetapi, terjadinya pergerakan benua-benua menggeser daerah tersebut pada posisi mereka sekarang, yaitu di daerah kutub dan lintang tinggi. Hal itu sejalan dengan asumsi dari teori apungan benua bahwa benua-benua bisa bergerak.

  1. Bukti Geologis

Buktigeologis paling kuat yang menunjukkan terjadinya apungan benua yaitu adanya kesamaan-kesamaan endapan sedimen dan struktur lapisan batuan di lokasi-lokasi yang berjauhan.

Oleh sebab itu, logis apabila berasumsi bahwa pada zaman dahulu, daerah-daerah ini tergabung, misalnya adanya sedimen gletser permo-carboniferous di Amerika Selatan, Afrika, Madagascar, Jazirah Arab, India, Antarktika, dan Australia.

Ada dugaan bahwa pada zaman dahulu daerah-daerah tersebut tergabung dalam satu benua yang lebih besar dan berada di lokasi yang sama, yang kita ketahui dengan nama Benua Gondwana.

Contoh lain misalnya barisan pegunungan di Amerika Serikat. Pegunungan Appalachian dan Adirondacks yang terdapat di pantai timur Amerika tiba-tiba menghilang di daerah Newfoundland. Tapi kita bisa menemukan barisan pegunungan dengan karakteristik yang hampir sama di daerah Greenland, Inggris, Norwegia, dan Swedia. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, mereka merupakan baris pegunungan yang sama.

  1. Bukti Biologis

Bukti biologis yang menunjukkan terjadinya pergerakan benua yaitu ditemukannya fosil hewan yang sama tapi lokasi penemuannya saling berjauhan, bahkan berbeda benua. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, benua tersebut menyatu dengan benua lain, atau setidaknya dihubungkan oleh daratan.

Contoh fosil hewan maupun tumbuhan yang ditemukan ditempat-tempat yang berjauhan, misalnya fossil Cynognathus ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika. Hewan ini  adalah  reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun silam.

Nah, demikianlah tadi artikel yang bisa kami uraikan pada segenap pembaca berkenaan dengan berbagai fenomena yang menjadi pembuktian dalam teori apungan benua. Semoga memberikan edukasi untuk kalian yang sedang membutuhkannya pada saat ini.

Referensi
  1. Continental drift dari https://en.wikipedia.org/wiki/Continental_drift#Modern_evidence
  2. Continental Drift Theory: Evidences and Drawbacks, Tectonics dari https://www.pmfias.com/continental-drift-theory-tectonics-evidences-continental-drift/#Continental_Drift_Theory_(Alfred_Wegener,_1922)
Gambar Gravatar
Diah Ainurrohmah Adalah Alumni Jurusan Geografi dan Saat Ini Sedang Proses Penyelesaian Program Pascasarjana Geografi di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *