Teori Apungan Benua: Pengertian, Jenis, dan Penjelasannya

Diposting pada

Jenis Teori Apungan Benua

Struktur bumi dan komponennya merupakan satu–satu nya planet di ada di alam semesta ini yang ditemukan unsur kehidupan di dalamnya. Bumi mengandung beberapa unsur kehidupan yang disebut gas hidrogen, gas oksigen, gas karbon dioksida, dan air.

Hidrogen merupakan bentuk air yang digunakan tumbuhan untuk bertahan hidup. Sedangkan oksigen merupakan gas yang dibutuhkan manusia untuk bernafas. Sedangkan karbon dioksida adalah gas yang dikeluarkan manusia untuk diserap tumbuhan yang dibantu oleh air untuk proses fotosintesis lalu menghasilkan oksigen.

Pernahkah kalian bertanya mengapa masing–masing benua tersebut letaknya terpisah? Jawabannya adalah pada zaman dahulu sekali terdapat 1 benua di bumi yang disebut Pangea. Pangea berasal dari bahasa Yunani yang berarti semua daratan. Pangea menjadi terpisah bagian–bagiannya karena efek pergerakan dari lempeng tektonik. Peristiwa ini berlangsung selama berjuta–juta tahun yang lalu.

Teori Apungan Benua

Pengertian benua adalah sekumpulan negara yang mengelompok pada satuan wilayah di permukaan bumi yang memisah satu sama lain. Terdapat 6 benua di permukaan bumi. Benua tersebut adalah Asia, Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan Antartika.

Penyebutan Antartika sebagai sebuah benua menuai pro dan kontra di masyarakat. Hal ini disebabkan Antartika merupakan satu–satunya benua yang tidak memiliki penduduk. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa hanya terdapat 5 benua di bumi.

Peristiwa terpisahnya Pangea membentuk benua–benua atau daratan yang baru terdapat dalam teori apungan benua. Teori apungan benua akan dibahas lebih dalam pada penjelasan sebagai berikut.

Teori terpisahnya daratan Pangea pertama kali ditemukan oleh Sir Francis Bacon pada tahun 1620. Lalu teori tersebut dikembangkan oleh Antonio Snider Pellegrini pada tahun 1858 dalam bukunya yang berjudul Creation and It’s Mysteries Revealed. Kemudian dikembangkan lagi oleh ahli Geologi asal Austria bernama Edward Suess pada tahun 1885 dalam bukunya yang berjudul The Face of the Earth.

Lalu dilanjutkan oleh seorang ahli geologi asal Amerika Serikat bernama Frank Taylor pada tahun 1910 yang kemudian disempurnakan menjadi teori apungan benua atau teori continental drift oleh Alfred L Wegner.

Teori apungan benua atau teori continental drift ditemukan oleh seorang ahli klimatologi dan geofisika bernama Alfred L Wegner pada tahun 1912. Alfred L Wegner membuat buku yang berjudul The Origin of Continent and Oceans. Dalam buku tersebut Alfred L Wegner menjelaskan tentang bagaimana teori apungan benua tersebut dapat terjadi.

Pengertian Teori Apungan Benua dan Tahapannya

Isi dari teori apungan benua pada buku tersebut penjelasannya sebagai berikut;

Pertama–tama, daratan benua memiliki kandungan unsur batuan sial pada daratan dan batuan sima pada lautan. Massa jenis batuan tersebut lebih berat dan jumlahnya berlapis – lapis. Batuan tersebut bergerak karena efek pergerakan lempeng tektonik. Jalur pergerakan benua terpusat pada daerah garis khatulistiwa menuju ke arah barat.

Benua pertama kali yang muncul di permukaan bumi adalah Pangea. Kemudian karena efek dari pergerakan lempeng tektonik tersebut Pangea terpisah menjadi 2 bagian yaitu Laurasia dan Gondwana. Peristiwa terpisahnya Laurasia dan Gondwana membutuhkan waktu 200 juta tahun. Hal ini terjadi karena pergerakan lempeng tektonik hanya sekitar 16 mm per tahun.

Hubungan antara teori apungan benua dengan teori pengertian lempeng tektonik tidak bisa dipisahkan. Banyak argumen mengatakan bahwa tidak ada keterkaitan pergerakan lempeng tektonik dengan teori apungan benua. Teori apungan benua yang berasal dari Pangea bergerak karena kerak sima yang berada di dasar laut.

Kedua perbedaan argumen tersebut lalu dapat disatukan dengan ditemukaannya persamaan jenis fosil yang terdapat di daratan benua Afrika dengan daratan di Amerika Selatan. Lalu penemuan fosil tersebut membantah argumen pergerakan teori apungan benua berasal dari pergerakan kerak sima yang berada di dasar laut. Argumen tersebut dihapuskan karena tidak ditemukannya bukti konkrit yang ada di dasar laut.

Pergerakan teori apungan benua dapat dihubungkan dengan jajaran gunungapi pada ring of fire. Ring of fire ini adalah jajaran gunungapi yang tersebar di berbagai belahan bumi. Apabila dahulunya benua tidak membentuk satu kesatuan yang disebut Pangea, maka sebaran gunungapi yang tersebar saat ini tidak membentuk 1 kesatuan jajaran. Bentuk 1 kesatuan jajaran gunungapi yang disebut ring of fire ini lah yang juga menguatkan teori apungan benua.

Pergerakan Pangea membentuk daratan–daratan baru yang ada di permukaan bumi terjadi pada zaman glasial. Pada zaman ini manusia dan makhluk purba belum menampakkan sosok keberadaannya. Makhluk hidup yang hidup pada masa ini adalah tumbuhan, reptil, dan beberapa jenis dinosaurus.

Jika kalian melihat peta dunia, maka perhatikanlah bentuk dari benua Afrika dan Amerika Selatan. Kedua daratan ini jika disatukan membentuk daratan yang sama. Hal ini dibuktikan dengan jenis batuan dan fosil yang terdapat di benua Afrika dan Amerika Selatan mempunyai suatu kesamaan.

Pergerakan lempeng bumi selain menyebabkan daratan yang terus bergerak seperti pada kasus memisahnya daratan Pangea, juga menyebabkan bencana alam gempa bumi tektonik yang melanda beberapa wilayah di permukaan bumi.

Bukti keberadaan Pangea tidak hanya ditemukan pada kecocokan daratan antara benua Afrik dan Amerika Selatan. Selain itu juga pegunungan yang berada di Amerika Utara dan Eropa Utara jika digabungkan memiliki sebuah kesamaan. Pengertian pegunungan tersebut adalah pegunungan Appalachian di Amerika Utara dan pegunungan yang terdapat Scandinavia di Irlandia.

Jenis Teori Apungan Benua

Teori apungan benua terbagi menjadi beberapa jenis bukti yang dapat menguatkan pernyataan dari Alfred L Wegner. Jenis teori apungan benua dapat dilihat dari kesamaan jenis fosil dan iklim purba. Penjelasan mengenai macam-macam teori apungan benua adalah sebagai berikut;

Kesamaan Jenis Fosil

Di daratan Amerika Selatan ditemukan sebuah fosil purba. Fosil tersebut berupa Cynognathus. Binatang cynognatus merupakan reptil purba yang hidup sekitar 240 juta tahun yang lalu. Penemuan fosil cynognatus juga ditemukan di dataran Afrika. Reptil tidak mungkin dapat berenang menyeberangi samudra luas. Maka dari itu masuk akal apabila Pangea terpisah menjadi benua–benua baru.

Tidak hanya itu, kesamaan fosil juga ditemukannya Mesosaurus. Binatang mesosaurus merupakan reptil yang hidup 260 juta tahun yang lalu. Penemuan fosil mesosaurus ditemukan di daratan Afrika dan Amerika Selatan juga.

Fosil selanjutnya yaitu ditemukannya Lystrosaurus. Binatang lystrosurus merupakan reptil yang hidup 240 juta tahun yang lalu. Penemuan fosil lystrosaurus ditemukan di daratan India, Afrika, dan Antartika.

Kemudian ditemukannya fosil Clossopteris. Clossopteris merupakan suatu tanaman yang hidup sekitar 260 juta tahun yang lalu. Penemuan fosil clossopteris ditemukan di daratan Afrika, Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika.

Kesamaan Iklim Purba

Pada zaman glasiasi, daratan Antartika terdapat hutan tropis. Hal ini ditemukannya fosil hutan tropis yang berada di Antartika. Secara logika tidak mungkin terdapat hutan tropis di daerah kutub. Peristiwa ini menguatkan bukti bahwa dahulunya Antartika menyatu dengan India yang beriklim tropis.

Penjelasan Implementasi Teori Apungan Benua dalam Dunia Pendidikan

Teori Apungan Benua masuk pada mata pelajaran Geografi SMA Kelas X pada kompetensi dasar menganalisis dinamika planet bumi sebagai ruang kehidupan. Pada kompetensi dasar tersebut teori apungan benua bisa dikembangkan sebagai mengolah informasi dinamika planet bumi sebagai ruang kehidupan.

Teori apungan benua pada implementasinya memiliki indikator yang dapat untuk mengklasifikasikan jenis – jenis teori tektonik lempeng. Tujuan dari pembelajaran teori apungan benua diharapkan memperoleh hasil peserta didik dapat menyebutkan teori – teori tektonik lempeng.

Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi teori apungan benua adalah menggunakan metode pendekatan saintifik. Metode pendekatan saintifik adalah metode yang sudah dirancang konsepnya oleh guru agar hipotesis permasalahan pembelajaran dapat diatasi secara mandiri oleh peserta didik.

Nah, materi diatas adalah pembahasan mengenai pengertian teori apungan benua menurut para ahli, jenis, dan penjelasannya yang terjadi di permukaan bumi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat khususnya bagi pelajar yang sedang belajar mengenai geografi. Terima kasih !

Berikan Ranting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *