6 Ciri Teori Apungan Benua Menurut Para Ahli

Diposting pada

Karakteristik Teori Apungan Benua

Dalam sejarahnya hipotesis tentang terjadinya pergeseran benua dikembangkan pada awal abad ke-20 yang sebagian besar teori ini dikemukakan oleh Alfred Wegener. Wegener mengatakan bahwa benua bergerak di sekitar permukaan bumi dan pernah bergabung menjadi satu benua super yang bernama Pangea. Pangea berarti seluruh bumi dalam bahasa Yunani kuno.

Selama Wegener masih hidup, para ilmuwan tidak percaya bahwa benua bisa bergerak, hingga sampailah pada fenomena alam yang menunjukkan keterkaitan teori tersebut terjadi pada Amerika bagian timur dan Afrika barat dan Eropa terpisah secara nyata. Meski yang lainnya juga dapat bersatu.

Teori Apungan Benua

Pergeseran benua adalah hipotesis bahwa benua-benua di planet bumi telah berpindah dari waktu ke waktu geologis relatif satu sama lain, sehingga tampak seperti “melayang” melintasi dasar samudra. Spekulasi pertama kali bahwa benua mungkin telah mengapung’ dikemukakan oleh Abraham Ortelius pada tahun 1596.

Akan tetapi pada faktanya penemu teori apungan benua dikemukakan oleh Alfred Wegener pada tahun 1912, tetapi hipotesisnya pada saat itu ditolak oleh banyak orang karena kurangnya mekanisme yang menyebabkan hal terjadi.

Hingga akhirnya, Arthur Holmes kemudian mengusulkan konveksi mantel untuk mekanisme itu. Ide pergeseran benua sejak saat itu telah dimasukkan oleh teori lempeng tektonik yang menjelaskan bahwa benua bergerak dengan menunggangi lempeng litosfer bumi.

Ciri Teori Apungan Benua

Gaya yang menjadi ciri teori apungan penuan menurut Wegener adalah sebagai berikut;

  1. Terjadi pergeseran benua di bumi dalam dua arah, yaitu, ke khatulistiwa karena interaksi gaya gravitasi, pole-fleeing force (akibat gaya sentrifugal yang disebabkan oleh rotasi bumi) dan daya apung (kapal mengapung di air karena gaya apung yang ditawarkan oleh air) dan ke barat karena arus pasang surut yang disebabkan gerakan bumi (bumi berputar dari barat ke timur, sehingga arus pasang surut bertindak dari timur ke barat, menurut Wegener).
  2. Gaya pasang surut (tarikan gravitasi bulan dan matahari) juga memainkan peran utama.
  3. Pole-fleeing force berhubungan dengan rotasi bumi. Bumi bukanlah bola yang sempurna; itu memiliki tonjolan di khatulistiwa. Tonjolan ini disebabkan oleh rotasi bumi (gaya sentrifugal lebih besar di ekuator).
  4. Gaya sentrifugal meningkat saat kita bergerak dari kutub menuju ekuator. Peningkatan gaya sentrifugal ini telah menyebabkan pelarian tiang, menurut Wegener.
  5. Gaya pasang surut disebabkan oleh tarikan bulan dan matahari yang mengembangkan pasang surut di perairan samudera.
  6. Menurut Wegener, gaya-gaya ini akan menjadi efektif bila diterapkan selama jutaan tahun, dan pergeserannya terus berlanjut.

Kekurangan Teori Apungan Benua

Seperti halnya teori-teori lainnya, kritik terhadap teori Apungan Benua ini juga memiliki kekurangan, diantaranya yaitu:

  1. Wegener gagal menjelaskan mengapa penyimpangan hanya dimulai di era Mesozoikum dan tidak sebelumnya.
  2. Teori tersebut tidak mempertimbangkan samudra.
  3. Pembuktian sangat bergantung pada asumsi yang bersifat umum.
  4. Gaya-gaya seperti daya apung, arus pasang surut air laut, dan gravitasi terlalu lemah untuk dapat menggerakkan benua.
  5. Teori modern (Lempeng Tektonik) menerima keberadaan Pangaea dan daratan terkait tetapi memberikan penjelasan yang sangat berbeda tentang penyebab penyimpangan.
Kesimpulan

Dari penjelasan yang dikemukakan dapatlah disimpulkan bahwa menurut Wegener yang menjadi penganggas teris ini menguemukakan bahwa dalam upaya mendalilkan sebagian besar waktu geologi hanya ada satu benua, yang disebutnya Pangaea. Di akhir Periode Trias (yang berlangsung dari sekitar 251 juta hingga 199,6 juta tahun yang lalu), Pangaea terfragmentasi, dan bagian-bagiannya mulai menjauh satu sama lain.

Bagian benua Amerika yang mengarah ke barat membuka Samudra Atlantik, dan blok Hindia melayang melintasi Khatulistiwa untuk bergabung dengan Asia. Pada tahun 1937 Alexander L. Du Toit, seorang ahli geologi Afrika Selatan, memodifikasi hipotesis Wegener dengan menyarankan dua benua primordial, Laurasia di utara dan Gondwana di selatan.

Nah, itulah saja artikel yang bisa kami uraikan pada segenap pembaca terkait dengan isi dan ciri yang ada dalam teori apungan benua yang dikemukakan oleh Alfred Wegener. Semoga memberikan edukasi bagi kalian yang sedang membutuhkannya pada saat ini.

Gambar Gravatar
Diah Ainurrohmah Adalah Alumni Jurusan Geografi dan Saat Ini Sedang Proses Penyelesaian Program Pascasarjana Geografi di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *