Unsur Interpretasi Citra dan Penjelasannya

Diposting pada

Unsur Interpretasi Citra

Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek/fenomena ataupun berupa area melalui analisis data yang diperoleh dalam seperangkat alat yang tidak bersentuhan dengan obyek untuk diteliti. Untuk bisa melakukan proses penginderaan jauh  inilah diperlukan interpretasi citra dengan tepat.

Adapun contoh interpretasi citra yang tepat harus mengetahui unsur-unsurnya terlebih dahulu, diantaranya yaitu rona, warna, bentuk, ukuran , tekstur, situs, asosiasi, dan lain-lain.

Interpretasi Citra

Interpretasi adalah proses deteksi, identifikasi, deskripsi dan penilaian signifikansi suatu obyek dan pola yang dicitrakan. Metode interpretasi dapat berupa visual atau digital atau kombinasi keduanya. Kedua teknik interpretasi memiliki kelebihan dan kekurangan dan bahkan setelah analisis digital, hasilnya juga dianalisis secara visual.

Unsur Interpretasi Citra

Unsur-unsur yang ada dalam interpretasi citra, antara lain:

  1. Rona

Rona pada citra mengacu pada terang atau gelap relatif suatu obyek. Variasi rona disebabkan oleh karakter refleksi, emisi, transmisi atau absorpsi suatu obyek. Ini mungkin berbeda dari satu obyek ke obyek lainnya dan juga berubah dengan mengacu pada pita yang berbeda.

Secara umum permukaan halus cenderung memiliki reflektansi tinggi, permukaan kasar lebih sedikit reflektansinya. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan mudah melalui citra Inframerah dan Radar. Contoh rona misalnya pasir kering akan merefleksikan warna putih, sedangkan tanah yang basah akan merefleksikan warna kehitaman.

  1. Warna

Warna dapat diartikan sebagai wujud yang terlihat oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak.

Misalnya obyek terlihat berwarna biru, hijau, atau merah apabila hanya memantulkan spektrum yang memiliki panjang gelombang 0,4-0,5 μm, 0,5-0,6 μm, atau 0,6-0,7 μm. Sebaliknya, jika obyek menyerap sinar biru maka akan memantulkan warna hijau dan merah. Akibatnya obyek tersebut akan tampak dengan warna kuning.

Contoh interpretasi citra pada unsur yang satu ini misalnya pada foto udara pankromatik, ladang jagung yang sudah siap panen terlihat berwarna kuning, sedangkan sungai hutan hujan terlihat berwarna hijau gelap. Apabila menggunakan inframerah, maka tumpahan minyak di laut bisa dikenali dari warnanya yang gelap.

  1. Bentuk

Ciri-ciri obyek alamiah atau buatan manusia an alam seringkali memiliki bentuk yang begitu khas sehingga hanya ciri ini yang memberikan identifikasi yang jelas.

Contohnya yaitu perkebunan kelapa sawit mempunyai bentuk seragam,  sedangkan hutan bakau mempunyai bentuk tidak teratur. Bentuk mesjid bisa dilihat dari adanya kubah sedangkan bentuk jalan adalah lurus dengan berbagai percabangan.

  1. Ukuran

Unsur yang satu ini bergantung pada skala dan resolusi gambar / foto. Fitur yang lebih kecil akan dengan mudah menjorok ke dalam gambar/foto berskala besar. Ukuran merupakan atribut obyek yang bisa berupa jarak, luas, volume lereng, ketinggian tempat dan kemiringan.

Contoh interpretasi citra yang berkaitan dengan ukuran suatu obyek misalnya lapangan olahraga dicirikan oleh bentuknya yang berupa segi empat, dengan ukuran sekitar 80 m x 100 m untuk lapangan sepak bola, sekitar 15 m x 30 m untuk lapangan tenis, dan sekitar 8 m x 15 m untuk lapangan bulu tangkis.

  1. Pola

Pola merupakan pengaturan spasial suatu obyek menjadi bentuk berulang yang khas: Hal ini dapat dengan mudah dijelaskan melalui pola jalan raya dan jalur kereta api. Meski keduanya linier, namun jalan utama berasosiasi dengan tikungan yang curam dan banyak persimpangan dengan jalan kecil.

Pola juga bisa diartikan sebagai susunan keruangan merupakan ciri bagi beberapa obyek alamiah. Sebagai contoh pola aliran sungai seringkali menandai struktur geologi, litologi, dan jenis tanah yang ada di suatu wilayah. Misalnya pola aliran trellis menandai struktur lipatan; pola aliran dendritik menandai jenis tanah atau jenis batuan serba sama dengan sedikit atau tanpa pengaruh lipatan maupun patahan.

  1. Bayangan

Bayangan dapat mengungkapkan informasi tentang ukuran dan bentuk obyek yang tidak dapat dilihat dari tampilan atas saja. Efek bayangan dalam citra Radar disebabkan oleh sudut pandang dan kemiringan medan. Fitur yang lebih tinggi menghasilkan bayangan yang lebih besar daripada fitur yang lebih pendek.

Contoh unsur interpretasi citra yang satu ini misalnya cerobong asap, menara, tangki minyak, dan bak air yang dipasang tinggi lebih tampak dari bayangannya. Lereng terjal juga terlihat lebih jelas dengan adanya bayangan.

  1. Tekstur

Tekstur merupakan frekuensi perubahan rona yang menimbulkan kesan visual dari permukaan yang kasar atau halus benda. Unsur yang satu ini bergantung pada ukuran, bentuk, pola, dan bayangan.

Tekstur digunakan sebagai petunjuk penting dalam interpretasi gambar. Sangat mudah bagi penafsir untuk memasukkannya ke dalam proses mental mereka. Kebanyakan pola tekstur tampak tidak beraturan pada citra. Contoh tekstur misalnya padang rumput yang luas akan mencitrakan tekstur halus, sedangkan hutan konifer akan mencitrakan tekstur yang cenderung kasar.

  1. Situs

Situs mengacu pada posisi topografi. Misalnya, tanaman tertentu biasanya ditanam di lereng bukit atau di dekat badan air yang besar. Situs juga bisa diartikan sebagai kedudukan suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya.

Situs bukanlah ciri obyek secara langsung, melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya. Contoh unsur interpertasi citra yang satu ini misalnya situs kebun kopi berada di tanah miring sebab tanaman kopi membutuhkan pengatusan air yang baik.

  1. Asosiasi 

Asosiasi menunjukkan kemunculan satu jenis obyek yang dapat digunakan untuk menyimpulkan keberadaan obyek lain yang umumnya terkait di dekatnya. Atau secara sederhana bisa dikatakan bahwa asosiasi adalah keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain.

Karena adanya keterkaitan tersebut maka terlihatnya suatu obyek pada citra seringkali menjadi petunjuk adanya obyek lain. Contoh interpretasi citra yang berkaitan dengan unsur yang satu ini yaitu stasiun kereta api yang memiliki asosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu (bercabang).

  1. Konvergensi bukti

Konvergensi bukti merupakan upaya untuk mengenali obyek dengan menggunakan lebih dari satu unsur interpretasi citra. Apabila unsur interpretasi citra yang digunakan semakin banyak, maka semakin menciut lingkupnya ke arah titik simpul tertentu.

Itulah yang dinamakan dengan konvergensi bukti, atau bukti-bukti yang mengarah ke satu titik simpul. Misalnya pada foto udara terlihat tumbuh-tumbuhan yang tajuknya berbentuk bintang.

Pohon tersebut jelas berupa pohon palem, tapi kemungkinannya ini masih cukup luas, karena pohon palem tersebut bisa berupa pohon kelapa, kelapa sawit, nipah, enau, dan sagu. Interpretasi 5 jenis pohon ini hanya didasarkan pada tajuk pohonnya saja.

Tahapan Interpretasi Citra

Proses yang menjadi bagian dari tahapan interpretasi citra meliputi:

  1. Deteksi: seperti pencarian titik panas di fasilitas mekanis dan kelistrikan dan titik putih pada citra sinar-X. Prosedur ini sering digunakan sebagai langkah pertama interpretasi gambar.
  2. Identifikasi: pengenalan target tertentu. Contoh sederhananya adalah mengidentifikasi tipe vegetasi, tipe tanah, tipe batuan dan badan air. Semakin tinggi resolusi spasial/spektral suatu gambar, semakin banyak detail yang dapat kita peroleh dari gambar tersebut.
  3. Delineasi: untuk menguraikan target yang dikenali untuk tujuan pemetaan. Identifikasi dan delineasi yang digabungkan bersama digunakan untuk memetakan subjek tertentu. Jika keseluruhan citra akan diproses dengan dua prosedur ini, kita dapat menyebutnya klasifikasi gambar.
  4. Enumeration: untuk menghitung fenomena tertentu dari citra. Ini dilakukan berdasarkan deteksi dan identifikasi. Misalnya, untuk memperkirakan pendapatan rumah tangga dari suatu populasi, kita dapat menghitung jumlah berbagai unit tempat tinggal.
  5. Pengukuran: untuk mengukur luas, volume, jumlah, dan panjang target tertentu dari suatu citra. Ini sering kali melibatkan semua prosedur yang disebutkan di atas. Contoh sederhana termasuk mengukur panjang sungai dan luas kelas tutupan lahan tertentu. Contoh yang lebih rumit termasuk perkiraan volume kayu, debit sungai, produktivitas tanaman, radiasi daerah aliran sungai, dan evapotranspirasi.
Kesimpulan

Dari penjelasan yang dikemukakan penting dipahami bahwa jikalau dtambah dengan unsur interpretasi citra lagi misalnya pola, maka kemungkinannya akan menjadi lebih menciut. Misalnya tumbuhan tersebut polanya tidak teratur, maka 5 kemungkinan tersebut menciut menjadi 3 yaitu nipah, enau, atau sagu, karena kelapa dan kelapa sawit biasanya ditanam  orang dengan pola tanam yang teratur.

Untuk mempersempit kemungkinan interpretasi, kita bisa menambah satu unsur lagi, misalnya ukuran. Apabila ukuran tumbuhan tersebut 10 meter atau lebih, maka tinggal 2 kemungkinannya, yaitu enau atau sagu, sebab nipah merupakan pohon palem yang tak berbatang, yang tinggi tajuknya hanya sekitar 3 meter atau kurang dari 3 meter.

Apabila ditambah satu unsur interpretasi citra lagi, misalnya situsnya di tanah becek dan berair payau, maka hanya dihasilkan 1 kemungkinan yang menjadi satu titik simpul, yaitu bahwa yang tergambar pada foto tersebut adalah sagu, sebab enau termasuk tumbuhan darat yang tidak terdapat pada air payau.

Nah, demikianlah tadi artikel yang bisa kami kemukakan pada segenap pembaca berkenaan dengan berbagai unsur yang ada dalam interpretasi citra, contoh, dan tahapannya. Semoga memberikan pemahaman untuk kalian yang membutuhkan.

Gambar Gravatar
Diah Ainurrohmah Adalah Alumni Jurusan Geografi dan Saat Ini Sedang Proses Penyelesaian Program Pascasarjana Geografi di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *