Contoh Fenomena Antroposfer dalam Kehidupan Sehari-Hari

Diposting pada

Contoh Antroposfer

Antroposfer pada dasarnya salah satu aspek geosfer yang secara spesifik berkaitan dengan manusia sebagai penduduk bumi. Komponen geosfer lainnya yaitu arti hidrosfer dengan contoh fenomena yang berkaitan dengan perairan, sedangkan arti litosfer dengan contoh fenomena yang berkaitan dengan batuan dan mineral, atmosfer dengan contoh fenomena yang berkaitan dengan udara yang menyelimuti bumi, dan biosfer dengan contoh fenomena yang berkaitan dengan makhluk hidup termasuk flora dan fauna.

Akn tetapi yang pasti, dalam fenomena antroposfer berkaitan erat dengan objek material ilmu geografi yang kajiannya sendiri meliputi jumlah dan pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk, komposisi penduduk, mobilitas penduduk. Aspek kependudukan lainnya yang dikaji dalam antroposfer yaitu permasalahan terkait kualitas penduduk. Cabang ilmu geografi yang secara khusus mempelajari fenomena-fenoman antroposfer tersebut adalah geografi penduduk.

Antroposfer

Antroposfer adalah peristiwa di dalam permukaan bumi yang berkaitan dengan manusia ataupun penduduk dengan segala aktivitasanya. Dalam menelaah fenomena antroposfer secara spesifik geografi mempelajari tentang persebaran penduduk, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persebaran tersebut, beserta aspek-aspek demografis penduduk.

Contoh Fenomena Antroposfer

Adapun untuk berbagai contoh fenomena antroposfer dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

  1. Terjadinya kelahiran (natalitas atau fertilitas)

Kelahiran atau natalitas adalah fenomena antroposfer yang berpengaruh terhadap jumlah penduduk, sebab dengan adanya kelahiran, jumlah penduduk pun bertamah. Istilah angka kelahiran mengacu pada frekuensi kelahiran dalam suatu populasi. Atau dengan kata lain, angka kelahiran adalah rasio antara jumlah kelahiran hidup pada tahun tersebut dan rata-rata jumlah penduduk pada tahun tersebut.

  1. Terjadinya kematian (mortalitas)

Kematian atau arti mortalitas juga termasuk fenomena antroposfer yang menunjukkan berkurangnya jumlah penduduk disuatu daerah. Fenomena yang satu ini bisa disebabkan oleh banyak hal, diantaranya yaitu usia yang sudah tua, menderita penyakit tertentu, kecelakaan, dan lain-lain.

Istilah angka kematian mengacu pada frekuensi kematian dalam suatu populasi per seribu penduduk setiap tahunnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa angka kematian adalah ukuran jumlah kematian (secara umum, atau karena sebab tertentu) dalam populasi tertentu, diskalakan dengan ukuran populasi tersebut, per unit waktu.

  1. Terjadinya imigrasi (masuknya penduduk)

Imigrasi adalah sebagai perpindahan penduduk yang berupa masuknya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Misalnya, masuknya orang India ke Indonesia. Orang India tersebut dinamakan imigran.

Imigrasi bisa bersifat permanen, yang berarti bahwa imigran akan tinggal menetap untuk selamanya. Sebaliknya, imigrasi juga bisa bersifat sementara, misalnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Arab Saudi, lamanya tinggal di negara tersebut ditentukan berdasarkan kontrak selama dua tahun.

  1. Terjadinya emigrasi (keluarnya penduduk)

Emigrasi adalah sebagai perpindahan penduduk yang berupa keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Misalnya, orang-orang Indonesia yang berpindah ke New Caledonia dan Suriname. Orang yang melakukan emigrasi dinamakan emigran.

  1. Terjadinya remigrasi (kembalinya penduduk)

Remigrasi adalah kembalinya para emigran ke negara asalnya. Misalnya, orang-orang Ambon yang tadinya berpindah ke Belanda sebagai emigran, kemudian kembali lagi ke Indonesia.

Secara spesifik, istilah remigrasi (remigration) atau re-imigrasi (re-immigration), kadang-kadang disederhanakan sebagai “repatriasi”, adalah konsep politik sayap kanan yang mengacu pada pemulangan paksa imigran non-kulit putih (yaitu, bukan etnis Eropa), sering kali termasuk keturunan mereka, kembali ke tempat asal ras mereka tanpa memandang status kewarganegaraan.

  1. Terjadinya transmigrasi (migrasi intern)

Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah (pulau atau provinsi) yang berpenduduk padat ke daerah lain (pulau atau provinsi lain) yang penduduknya masih jarang di dalam negara sendiri.

Program transmigrasi digalakan dengan tujuan untuk mengurangi kemiskina karena pada umumnya warga yang mengikuti transmigrasi memiliki kondisi sosial-ekonomi yang lemah, tapi memiliki tekada dan semangat untuk meningkatkan kesejahterannya. Selain itu, program transmigrasi juga bertujuan untuk pemerataan dan persebaran penduduk.

  1. Terjadinya urbanisasi

Urbanisasi dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan, penurunan proporsi orang yang tinggal di daerah pedesaan, dan cara masyarakat beradaptasi terhadap perubahan ini. Urbanisasi merupakan proses di mana kota-kota terbentuk dan menjadi lebih besar karena lebih banyak orang mulai tinggal dan bekerja di daerah pusat

Salah satu dampak dari peningkatan jumlah penduduk yang sangat besar di perkotaan adalah munculnya megacity, yang merupakan kota berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa. Sekarang ada kota dengan lebih dari itu. Tokyo, Jepang, misalnya, memiliki hampir 40 juta penduduk. Efek lain dari urbanisasi adalah urban sprawl, yaitu suatu fenomena ketika populasi kota terpencar di wilayah geografis yang semakin luas.

  1. Kepadatan penduduk yang tinggi

Kepadatan penduduk mengacu pada banyaknya penduduk per satuan luas. Tingkat kepadatan penduduk dapat berguna sebagai dasar kebijakan pemerataan penduduk dalam berbagai program jenis transmigrasi.

Istilah kepadatan penduduk kasar atau crude population density (CPD) dapat diartikan sebagai jumlah penduduk untuk setiap km2 luas wilayah. Luas wilayah yang dimaksud dalam hal ini mencakup luas seluruh daratan pada suatu wilayah administrasi.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan suatu wilayah memiliki kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Selain faktor pertumbuhan alami dan pemusatan penduduk di suatu wilayah, faktor lain yang berpengaruh terhadap tingginya kepadatan penduduk, antara lain:

  1. Faktor fisiografis termasuk bentuk permukaan bumi, kondisi perairan, dan kondisi iklim. Misalnya, kawasan dataran rendah yang dekat dengan perairan, tanah subur, dan daerah aman, cenderung memiliki kepadatan penduduk tinggi.
  2. Faktor ekonomi berpengaruh terhadap populasi penduduk suatu daerah sebab adanya peluang dan lapangan pekerjaan yang menarik banyak orang. Misalnya, banyak penduduk di Indonesia yang memilih untuk pindah ke kota-kota besar untuk bekerja.
  3. Faktor sosial budaya juga berpengaruh terhadap kepadatan penduudk karena berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. Mislanya wilayah dengan banyak fasilitas publik yang bagus akan menarik banyak penduduk untuk tinggal. Wilayah yang relatif aman secara sosial politik akan menjadi pilihan tempat tinggal masyarakat.
  1. Penentuan komposisi penduduk berdasarkan usia

Komposisi penduduk merupakan pengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria tertentu. Salah satunya adalah pengelompokkan berdasarkan usia, yaitu komposisi penduduk yang digunakan untuk untuk mengelompokkan penduduk suatu negara atau daerah berdasarkan rentang usia tertentu.

Pengelompokan dalam arti penduduk yang didasarkan pada usia biasanya digunakan untuk menentukan jumlah penduduk yang berusia produktif dan tidak produktif. Komposisi yang satu ini berpengaruh terhadap struktur penduduk di suatu wilayah.

  1. Penentuan komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin

Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah komposisi penduduk yang digunakan untuk menentukan rasio jenis kelamin dan perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan, yang dapat dihitung dengan rumus:

Rumus Kompoisisi Penduduk

  1. Penentuan komposisi penduduk berdasarkan rasio ketergantungan 

Komposisi penduduk berdasarkan rasio ketergantungan adalah komposisi penduduk yang menunjukkan besar beban tanggungan kelompok usia produktif terhadap kelompok usia tidak produktif. Penduduk berusia produktif yaitu pada rentang usia 15-64 tahun, sedangkan usia tidak produktif yaitu di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun. Rumus untuk menentukan beban ketergantungan (Dependency Ratio), yaitu:

Rumus untuk menentukan beban ketergantungan

Kesimpulan

Dari penjelasan yang dikemukakan, dapatlah dikatakan bawah fenomena antroposfer sejatinya ialah manusia yang memang termasuk makhluk hidup, tapi untuk kajian yang secara spesifik mempelajari tentang manusia beserta aktivitasnya sebagai penduduk muka bumi dengan segala dinamiknya merupakan cakupan dari antroposfer.

Hal ini karena kehidupan manusia yang dinamis tersebut, fenomena-fenomena yang terjadi juga beragam, mulai dari kelahiran, kematian, perpindahan penduduk, hingga permasalahan kualitas penduduk.

Itulah tadi penjelasan yang bisa diberikan pada semua kalangan berkenaan dengan beragam contoh antroposfer dalam objek kajian geografi yang bisa dilihat untuk kehidupan sehari-hari.

Gambar Gravatar
Diah Ainurrohmah Adalah Alumni Jurusan Geografi dan Saat Ini Sedang Proses Penyelesaian Program Pascasarjana Geografi di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *