Pengertian Pendekatan Ekologi dan Contohnya

Diposting pada
Pendekatan Ekologi adalah
Pengertian Pendekatan Ekologi dan Contohnya

Ekologi menerima perhatian yang meningkat sebagai fokus penelitian untuk objek studi geografi dan disiplin akademis lainnya. Pertimbangan konsep dasar dan hubungan ide-ide tersebut dengan kerangka kerja pengorganisasian disiplin ilmu secara individu diperlukan untuk menentukan posisi ekologi sebagai bidang substantif atau pendekatan metodologis. Ahli geografi mengidentifikasi dan penjelasan pola spasial fenomena bumi.

Konsep ekosistem dengan penekanan pada struktur, jaringan interaksi, dan fungsi, cukup berguna untuk melakukan investigasi letak geografis tersebut. Hal inilah pada akhirnya memperoleh nilai yang ditingkatkan dalam subbidang geografi dengan menyempurnakan pendekatan melalui fokus topikal. Ekologi dengan demikian dipandang sebagai pendekatan metodologis dengan aplikasi signifikan untuk penelitian geografis. Pada dasarnya, kajian geografi yang berpijak pada sudut pandang ekologi bisa dibedakan menjadi empat tema dengan masing-masing contohnya.

Pendekatan Ekologi

Pendekatan ilmiah terhadap dinamika berbagai jenis sumber daya alam melibatkan karakterisasi bagaimana lingkungan mempengaruhi kelimpahan dan ketersediaan sumber daya tertentu. Dari sudut pandang ekologi, lingkungan merupakan kumpulan dari faktor alam (fisik, kimia, dan biologi) yang dapat mempengaruhi organisme hidup. Pendekatan ekologi adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari fenomena geosfer seperti interaksi organisme yang hidup dengan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, faktor apa pun yang dapat dikonsumsi atau digunakan oleh suatu organisme didefinisikan sebagai sumber daya alam (Begon et al, 1990). Sistem “individu-lingkungan-populasi” (Barbault, 1992), yang menjadi inti pemikiran ekologi, menyajikan banyak interaksi yang saling terkait yang dapat dikelompokkan ke dalam salah satu dari dua kategori:

  1. Interaksi antar organisme (persaingan, predasi, mutualisme, dan lain-lain),
  2. Interaksi antara organisme dan lingkungan fisiknya (“kondisi” lingkungan).

Intinya, pendekatan geografi ekologi berkaitan dengan studi tentang sistem yang kompleks. Entitas kompleks (Fogelman Soulié, 1991; Gell-Mann, 1994) terdiri dari elemen-elemen berbeda yang berinteraksi dan bergabung dengan cara yang pada awalnya mungkin tidak terlihat jelas: kompleksitas sistem ada di mata pengamat.

Gagasan bahwa konsep kompleksitas tidak dapat dipisahkan dari persepsi tidak netral tetapi tergantung pada skala pengamatan sistem yang diteliti. Dalam ekologi, tidak ada skala untuk mengamati semua fenomena.

Perspektif ekologi telah hadir secara bersamaan dalam studi geografi sejak permulaannya karena hubungan lingkungan manusia yang dinamis adalah tema sentral dari disiplin ilmu. Dalam studi ekologi, penekanannya lebih pada proses daripada pada bentuk untuk mendapatkan wawasan tentang hubungan timbal balik manusia dan lingkungan total.

Untuk menjelaskan hubungan manusia dan lingkungan, beberapa aspek fundamental diperhatikan, yaitu:

  1. memahami hubungan yang rumit dan intim antara organisme (manusia, tumbuhan dan hewan) dan lingkungan;
  2. memahami pola perilaku manusia yang terlibat dalam eksploitasi sumber daya alam di wilayah tertentu melalui perangkat teknologi dan strategi tertentu; dan
  3. menganalisis campur tangan manusia dalam sistem ekologi dalam rangka eksploitasi sumber daya alam.

Pengertian Pendekatan Ekologi

Pendekatan ekologi (ecological approach) adalah metode penjelasan yang menyangkut dirinya sendiri dengan studi tentang hubungan antara variabel manusia dan lingkungan. Jenis pendekatan ini digunakan dalam ekosistem tertutup atau sebagian tertutup, yaitu, merupakan analisis intra-regional dan bukan analisis antar wilayah dari sebaran fenomena spasial.

Analisis ekologi juga memiliki aspek teoritis dan terapan. Di bawah aspek teoritis, struktur lingkungan, ekosistem, dan lain-lain dianalisis, sedangkan sisi terapannya menganalisis geografi sumber daya alam, penilaian bahaya dan lain-lain.

Pengertian Pendekatan Ekologi Menurut Para Ahli

Adapun definisi pendekatan ekologi menurut para ahli, antara lain:

  1. Yunus (2008)

    Menurut Yunus pada tahun 2008 bahwa Pendekatan ekologi yang dimaksud dalam ilmu geografi merupakan analisis tentang interelasi antara manusia yang melakukan kegiatan sehari-hari dan atau kegiatannya dengan lingkungan.

Contoh Pendekatan Ekologi

Berikut ini beberapa contoh pendekatan ekologi dalam geografi berdasarkan temanya, antara lain:

Human behaviourenvironment theme of analysis (Analisis Perilaku Manusia Terhadap Lingkungan)

Analisis dalam tema yang satu ini berfokus pada perilaku manusia, baik perilaku secara sosial, ekonomi, kultural dan bahkan politik, baik manusia sebagai individu atau komunitas tertentu.

Contoh kajian dalam teman ini misalnya:

  1. Penebanagan hutan secara liar

Masyarakat yang tinggal di daerah dekat hutan lindung, mereka selalu menebangi kayu pada hutan lindung. Dengan menggunakan pijakan tema Human behaviour-environment theme of analysis, dalam menganalisis masalah ini maka akan dicari jawaban terkait apa yang latar belakang hal tersebut, bagaimana prosesnya, apa dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana mengatasinya.

  1. Penambangan liar

Penambangan liar yang marak terjadi di masyarakat dapat disebabkan karena ebebrapa faktor berikut, seperti:

  1. Kurangnya perhatian dari pemerintah,
  2. Minimnya pengetahuan masyarakat,
  3. Perekonomian masyarakat yang masih memprihatinkan, sehingga mudah termakan janji-janji manis para investor penambang liar, dan
  4. Adanya oknum-oknum tertentu di balik kegiatan penambangan liar tersebut

Meskipun masyarakat memperoleh uang dari kegiatan tersebut, tapi lama-lama kelamaan penambangan tersebut akan berdampak besar terhadap kerusakan lingkungan, karena seringkali lubang-lubang bekas galian tambang dibiarkan begitu saja, sehingga menjadi sumber berkembangnya penyakit dan menjadi lahan kritis. Hal itu tentunya akan merugikan masyarakat itu sendiri.

  1. Banjir juga dipengaruhi oleh faktor aktivitas manusia

Banjir seringkali bukan hanya disebabkan oleh kondisi geologis suatu wilayah yang berupa cekungan, tapi juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia misalnya melakukan penebangan hutan secara liar (ilegal loging) tanpa memperhatikan kelestariannya.

Hal itu juga bisa diakibatkan oleh aktivitas manusia yang membuang sampah di sungai atau selokan sehingga menghambat aliran air, dan bisa juga disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air karena alih fungsi lahan yang awalnya berupa lahan terbuka hijau berubah menjadi lahan terbangun.

  1. Longsor juga dipengaruhi oleh faktor aktivitas manusia

Longsor merupakan gerakan tanah menuruni lereng secara cepat. Pada dasarnya longsor biasa terjadi karena pengaruh kemiringan lereng yang curan dan curah hujan yang tinggi. Akan tetapi, longsor juga bisa dipicu oleh aktivitas manusia dalam memanfaatkan lahan yang curam tersebut.

Misalnya daerah yang curam dijadikan sebagai lahan pertanian dan tanaman keras dihilangkan. Akibatnya, lahan pun lama kelamaan akan menjadi kritis, sehingga saat turun hujan rawan untuk mengalami longsor dan kejadian longsor akan membuat warga sekitar menjadi rugi banyak.

Human activity (performance)-environment theme of analysis (Analisis Aktivitas Manusia Terhadap Lingkungan)

Analisis dalam tema yang satu menekankan pada kinerja dari bentuk-bentuk kegiatan manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa kegiatan manusialah yang menjadi fokus kajian pada tema ini. Apabila tema pertama tadi menyangkut attitude, maka pada tema yang kedua ini berkaitan dengan external performance.

Kegiatan yang berkaitan dengan tindakan manusia dalam dalam menyelenggarakan kehidupan sedimikian rupa, diantaranya yaitu kegiatan pertanian, pertambangan, industri, perumahan, pariwisata, dan lain-lain. Sedangkan perilaku berkaitan dengan sifat batiniah dan persepsi manusia.

Contoh kajian dalam tema ini misalnya:

  1. Negara maju mengembangkan pertanian modern

Negara maju melakukan kegiatan pertanian secara modern dan menjadikan negara tersebut sebagai eksportir produk pertanian, misalnya Amerika Serikat memproduksi apel dan jeruk, sedangkan negara berkembang tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negerinya perlu melakukan impor (Indonesia impor jagung).

Analisis dalam tema kedua ini apabila digunakan untuk menguraikan fenomena di atas yaitu dengan cara mengungkapkan faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap hal tersebut. Penggunaan teknologi yang sangat canggih dalam bidang pertanian dapat membuat pertanian itu lebih maju.

Faktor internal mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pertanian, sedangkan faktor eksternal mencakup hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur lingkungan. Faktor-faktor tersebut selanjutnya dilakukan analisis mendalam. Analisis SWOT, dapat diterapkan pada fenomena seperti ini.

  1. Pertanian rumput laut

Meskipun wilayah perairan di Kotabaru cukup luas, tapi potensi pertanian di wilayah itu hanya dilakukan di beberapa area saja. Salah satunya yaitu di Lontar. Daerah tersbeut berhasil mengembangkan pertanian rumput laut dibandingkan daerah lainnya sebab kondisi alamnya memang lebih mendukung. Arus laut di daerah tersebut tidak terlalu deras sehingga rumput laut bisa berkembang dengan baik.

Physico natural features (performance)-environment theme of analysis (Analisis Kenampakan Fisik Alami Terhadap Lingkungan)

Analisis dalam teman yang satu ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan fisik alami dengan elemen-elemen lingkungannya. Contoh kajian dalam tema ini misalnya:

  1. Polusi yang terjadi di sungai

Sebuah arti sungai menunjukkan terjadinya polusi air yang menyebabkan ikan-ikan (biota) di sungai tersebut mati. Gejala menurunya kualitas sungai bisa ditelusuri dengan menganalisis faktor internal (faktor sungai itu sendiri) seperti pH airnya, kandungan polutan dalam air dan lain-lain.

Faktor internal tersebut selanjutnya dikaitkan dengan faktor eksternal (faktor yang ditimbulkan manusia  yang hidup disekitar sungai) seperti penggunaan lahannya, pembuangan limbah ke sungai, pencemaran air yang disebabkan oleh kegiatan masnusia dan lain-lain.

Penelitian tersebut diharapkan bisa menemukan jawaban atas permasalahan penurunan kialitas sungai. Seorang geografer juga dituntut untuk mampu mencari solusi secara preventif, kuratif dan inovatif dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan saran kepada masyarakat yang ada disekitaran sungai.

  1. Pulau kecil yang tenggelam

Ada sebuah pulau yang bernama pulau Nipah. Pulai ini terletak di wilayah perbatasan dengan negara Singapura. Pulau ini hampir tenggelam sebagai akibat penambangan pasir yang terjadi di wilayah tersebut. Pasir-pasir hasil tambang tersebut dibawa ke Malaysia oleh oknum-oknum tertentu.

Terjadinya abrasi juga mempercepat proses tenggelamnya pulau. Melihat permasalahan tersebut, pemerintah akhirnya turun tangan untuk menyelamatkan pulau ini, yaitu dengan cara mereklamasi pulau secara keseluruhan agar tidak benar-benar tenggelam.

Tema Physico features (performance)-environment theme of analysis (Analisis Kenampakan Fisik Buatan Terhadap Lingkungan)

Analisis yang satu ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan fisik budayawi (buatan manusia) dengan elemen lingkungan dimana obyek kajian berada. Contoh kajian dalam tema ini misalnya:

  1. Penggenangan pada area permukiman

Suatu daerah permukiman tertentu yang pada mulanya tidak terjadi penggenangan tapi pada akhir-akhir ini terjadi penggenangan sehingga menyebabkan terjadinya deteriorisasi lingkungan yang hebat.

Kompleks permukiman adalah bentukan artifisial yang bersifat fisikal. Dalam mengkaji permasalahan tersebut geografer dapat bertitik tolak dari faktor-faktor internal (faktor permukiman itu sendiri) dan faktor-faktor eksternal (faktor di luar permukiman tersebut) yang diperkirakan memiliki keterkaitan erat dengan munculnya penggenangan.

Apakah ada perubahan iklim terutama yang berkaitan dengan:

  1. Curah hujan
  2. Perubahan alur sungai
  3. Kondisi laut
  4. Kerusakan hutan
  5. Bertambah luasnya area yang permukaan tanahnya dikeraskan, sehingga mengakibatkan bertambahnya run off
  6. Kantong-kantong penampung air sudah banyak berkurang karena dipengaruhi oleh faktor alami atau faktor non alami (kebijakan pembangunan yang salah) dan lain-lain.

Dengan mengkaji keterkaitan antara permukiman dan faktor-faktor lingkungannya tersebut bisa diketahui penyebab utamanya dan sekaligus geografer akan mampu memberikan masukan tentang berbagai alternatif pemecahan masalahnya.

  1. Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi “paru-paru” wilayah

Green Open Space atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan area atau jalur dalam kota atau suatu wilayah yang penggunaannya bersifat terbuka dengan dihiasi oleh tanaman yang menyejukkan.

Secara ekologis, Ruang Terbuka Hijau berfungsi sebagai “paru-paru” kota atau wilayah. Tumbuhan dan tanaman hijau yang terdapat pada RTH bisa menyerap kadar karbondioksida (CO2), meningkatkan kadar oksigen, menurunkan suhu dengan memberikan keteduhan dan kesejukan, menjadi area resapan air, dan meredam kebisingan.

Demikianlah artikel yang bisa kami kemukakan pada segenap pembaca berkenaan dengan pengertian pendekatan ekologi menurut para ahli dan contoh kajiannya dalam geografi. Semoga bisa memberikan pemahaman untuk semua kalangan yang membutuhkan.

Kesimpulan
  • 3 Styles of Analysis in Geography: Spatial, Ecological and Complex Regional Analysis dari https://www.yourarticlelibrary.com
  • A matter of terminology — the ecological approach in geography: a re-examination of basic concepts dari https://www.sciencedirect.com

Gambar Gravatar
Diah Ainurrohmah Adalah Alumni Jurusan Geografi dan Saat Ini Sedang Proses Penyelesaian Program Pascasarjana Geografi di Kampus Negeri Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *