Pendekatan Geografi dan Contohnya (Keruangan, Ekologi, dan Wilayah)

Diposting pada

Pendekatan Geografi dan Contohnya

Pada dasarnya geografi adalah ilmu yang mengkaji tentang kebumian dari mulai lapisan atmosfer, permukaan bumi, hingga bagian dalam mantel bumi. Keilmuan geografi terbagi menjadi beberapa cabang yaitu lithosfer untuk tema batuan, antroposfer untuk kajian manusia, atmosfer untuk pelajaran tentang langit bumi, hidrologi yang mengkaji perairan, oceanografi yang mengkaji lautan, dan masih banyak lagi jika dideskripsikan.

Pembelajaran geografi mengacu pada 3 pendekatan penting. Pendekatan geografi yaitu keruangan, ekologi, dan kewilayahan. Semua pendekatan tersebut digunakan untuk mempelajari ilmu geografi. Apa itu yang disebut dengan pendekatan geografi? Apa arti keruangan, ekologi, dan wilayah? Apa saja contoh-contohnya. Pembahasannya dapat disimak pada ulasan artikel sebagai berikut.

Pendekatan Geografi

Pendekatan pada objek studi geografi mengandung arti sudut pandang untuk mengkaji permasalahan terkait kebumian dalam menganalisis dan menyajikan dalam bentuk peta. Penggunaan pendekatan geografi dimulai berdasarkan ilmu hidrologi, pedologi, dan klimatologi.

Ketiga kajian ilmu tersebut apabila dijabarkan akan bertemu analisis 5W+1H dalam penerapannya. Untuk mengetahui macam-macam pendekatan geografi dapat dilihat pada ulasan di bawah ini.

Macam Pendekatan Geografi dan Contohnya

Mempelajari sub bab pendekatan geografi erat kaitannya dengan keruangan, ekologi, dan wilayah. Prinsip geografi muncul karena pada saat menilai objek kebumian terdapat bagian-bagian yang disinyalir merupakan kompetensi keruangan.

Komponen dalam pengertian biotik dan definisi abiotik termasuk dalam ekologi. Ketiga, kewilayahan mencakup pemetaan. Penjelasan berbagai klasifikasi pendekatan geografi dapat disimiak pada pembasahan berikut.

Pendekatan Keruangan

Aspek keruangan dimulai dari kondisi alam, faktor lokasi, dan sosial budaya. Tujuan dari berlakunya pendekatan keruangan mengacu pada distribusi/persebaran, interelasi, dan distribusi. Sebagai contoh pada peta topografi berisi tentang ketinggian suatu tempat. Di dalam peta topografi terdapat kontur yang digunakan sebagai gambaran visual dari ketinggian. Peta yang hanya menampilkan gambaran umum disebut sebagai peta dasar.

Peta dasar tidak dapat dibaca secara menyeluruh karena hanya menampilkan pokok inti dari penyajian peta tersebut. Maka dari itu pendekatan keruangan diperlukan disini. Penambahan beberapa unsur peta yang pertama adalah kondisi alam. Dari peta topografi tersebut diperlukan simbol-simbol yang menunjukkan gambaran permukaan bumi. Pada definisi peta topografi tetap akan ditampilkan simbol danau, sungai, hutan, dan lain-lain.

Kedua, tampilan peta topografi memerlukan faktor lokasi. Faktor lokasi paling sederhana dengan cara menambahkan kondisi administrasi pada peta tersebut. Kondisi administrasi paling utama dengan mencantumkan judul peta. Misal peta topografi wilayah Kota Surakarta, peta penggunaan lahan Kabupaten Bantul, Peta Persebaran Tambang Minyak Pulau Jawa, dan lain sebagainya.

Lokasi administrasi tetap akan “buta” apabila tidak dilengkapi dengan jalan dan batas administrasi. Jalan menggambarkan aksesbilitas lokasi, sedangkan batas administrasi menggambarkan sudut-sudut ruang geografi.

Ketiga, faktor sosial budaya mempengaruhi prinsip keruangan. Sosial budaya erat kaitannya dengan permukiman. Analisis permukiman digunakan untuk mengkaji persebaran penduduk. Sebagai contoh pada wilayah perkotaan persebaran penduduknya memusat, wilayah pedesaan persebaran penduduknya menyebar, wilayah bantaran sungai persebaran penduduknya memanjang mengikuti daerah aliran sungai, dan lain sebagainya.

Pendekatan Ekologi

Penggunaan pendekatan ekologi mengacu pada hubungan interaksi organisme dengan lingkungan. Hal ini erat kaitannya dengan ilmu biologi. Karena dalam hal ini dasar ilmunya adalah geografi maka penggunaan pendekatan ekologi yang dimaksud adalah pembahasan bioma. Pengertian bioma merupakan suatu kumpulan ekosistem besar yang saling berhubungan satu sama lain.

Sebagai contoh sederhana, pada bioma gurun ditemukan tanaman dengan batang tebal dan binatang yang memiliki kantung berupa cadangan makanan. Fungsi batang tebal pada tanaman kaktus (flora khas daerah gurun) memiliki kesamaan fungsi dengan punuk pada binatang onta, yaitu sama-sama berguna untuk cadangan makanan selama berhari-hari. Bioma gurun tidak ditemukan pohon-pohon besar maupun hutan.

Hal ini dikarenakan pada bioma gurun mengalami curah hujan yang sangat sedikit yaitu kurang dari 25 mm per tahun. Definisi curah hujan yang sangat sedikit tersebut menjadikan wilayah bioma padang gurun memiliki kelembaban yang minim sehingga evaporasi akan sangat kuat. Tingginya evaporasi mengundang fenomena kurangnya kandungan air dalam tanah sehingga tanah menjadi tidak subur.

Di daerah kutub juga tidak ditemukan poho-pohon besar. Daerah kutub merupakan kawasan dingin yang diselimuti oleh es. Kawasan kutub memiliki jarak yang jauh dari garis khatulistiwa (garis ekuator). Maka dari itu kawasan tersebut memiliki kondisi siang hari atau malam hari yang sangat lama, sehingga tumbuhan tidak akan tumbuh secara normal.

Pendekatan Wilayah

Pendekatan wilayah sering disebut sebagai analisis regional. Definisi pendekatan wilayah adalah gabungan permukaan bumi dengan lingkungan. Secara garis besar pengertian pendekatan wilayah adalah hubungan antara pendekatan keruangan dengan pendekatan ekologi. Pendekatan wilayah menggunakan prinsip geografi yang disebut sebagai diferensiasi areal. Diferensiasi areal menyebabkan interaksi antara suatu wilayah dengan wilayah lain.

Kewilayahan ini nantinya dipelajari dalam disiplin ilmu kartografi. Kartografi adalah ilmu yang mempelajari tentang peta. Seorang pembuat peta dinamakan sebagai kartograf. Kartograf memperhatikan penggunaan keruangan dan ekologi dari segi kewilayahan agar acuan penyusunan peta dapat dilakukan dengan maksimal.

Sebagai contoh dalam fenomena pendekatan wilayah dan perwilayahan terdapat karakteristik daerah. Karakteristik tersebut merupakan unsur utama dalam melakukan suatu pembangunan. Daerah bantaran sungai menyebabkan permukiman menjadi memanjang, daerah pegunungan menyebabkan kondisi pertanian dibuat dalam bentuk terasering dengan tujuan menahan tanah longsor, dan lain sebagainya.

Contoh lain adalah permukiman penduduk yang berada di utara Pulau Jawa. Pembangunan rumah di kawasan tersebut diperlukan peninggian pondasi. Pondasi rumah yang tinggi dapat mencegah terkena banjir rob. Banjir rob terjadi apabila air laut memiliki ketinggian yang melebihi daratan.

Kajian dalam pengertian fenomena geosfer merupakan dasar dari pendektan kewilayahan. Metode pendekatan wilayah dapat digunakan untuk menganalisis banjir yang selalu terjadi di Jakarta setiap tahun. Hal ini disebabkan karena Jakarta dikelilingi oleh Tangerang, Bekasi, dan Bogor. Ketiga Kabupaten tersebut dialiri oleh sungai besar.

Jika daerah hulu sungai terjadi hujan besar maka yang terkena dampaknya adalah hilir sungai yang berada di Jakarta. Fenomena ini didukung oleh drainase di kawasan hilir tepatnya di kawasan Jakarta mengalami penyumbatan aliran oleh sampah. Maka dari itu membuang sampah di sungai sangat dilarang karena dapat menyebabkan banjir.

Peristiwa bencana alam banjir tersebut disebut dengan banjir bandang atau banjir kiriman. Antisipasi banjir kiriman yang paling sederhana dengan cara menjaga kelestarian sungai. Pemerintah juga dapat membantu memitigasi bencana alam banjir kiriman dengan cara melebarkan sungai yang berada pada lokasi hulu. Nantinya, debit air yang ada di hulu menjadi semakin besar dan aliran menuju lokasi hilir dapat diminimalisir.

Nah, artikel diatas merupakan penjelasan yang membahas tentang pengertian pendekatan geografi (keruangan, ekologi, dan wilayah) beserta dengan contohnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan para pelajar Indonesia. Semangat dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *